Kampung Tuli

ACmeron – Di sebuah desa, di selatan Timur Jawa terdapat kampung yang sangat istimewa yaitu kampung tuli.

Di sana semua warganya tuli atau tidak bisa mendengar sejak lahir, mereka lebih senang dijuluki tuli ketimbang tuna rungu. Istilah tuna rungu menurut mereka sangatlah kasar jadi mereka senang dipanggil tuli.

Kenapa julukan kampung tuli??? karena warganya menikah dengan sesama orang tuli menjadikan keturunannya juga tuli.

Kehidupan dan pekerjaan sehari – hari mereka sama seperti kita contohnya berladang,berjualan di pasar, dan ada juga yang menjadi penjual aksesoris di pantai.

Perbedaan mereka dengan kita adalah hanya cara mereka berbicara setiap harinya menggunakan bahasa isyarat. Karena keunikan ini mereka dapat menarik perhatian turis mancanegara maupun penduduk lokal.

Mereka merasa tidak terganggu dengan kedatangan wisatawan, bagi mereka ini malah menjadi salah satu meningkatkan tujuan destinasi wisata edukasi dan perekonomian desa.

Warga disana sangat ramah dan etika tetap terjaga ketika menyambut para wisatawan lokal maupun manca negara. Disini selain belajar bahasa isyarat secara langsung, wisatawan diajak untuk melakukan kegiatan bersama mereka.

Wisatawan yang datang tak hanya berkunjung, tapi mereka juga membeli oleh – oleh atau cinderamata yang dibuat warga sekitar. Jadi warga sangat senang dan merasa terbantu atas hasil karyanya yang memiliki nilai lebih.

Wisatawan yang berkelilingi di desa ini, mereka akan merasa ingin berlama-lama di sini.Salah satu kegiatan yang sering mereka lakukan adalah pembuatan canang sari dan penjor.

Canang sari  adalah  sebagai simbol bahasa Weda. Untuk memohon kehadapan Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa yaitu memohon kekuatan Widya (Pengetahuan) untuk Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung.

Canang sari sering dipakai untuk persembahyangan sehari-hari. Canang yang mereka buat berbeda – beda macamnya sesuai dengan kebutuhan upacara yang dilaksanakan.

Penjor adalah perlambangan dari naga basukih yang memiliki makna kesejahteraan dan kemakmuran. Tujuan pemasangan penjor ini sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti dan terima kasih kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa-nya sebagai Hyang Giripati.

Para wisatawan disini sangat kagum dengan kehidupan di desa ini karena, menjunjung tinggi rasa toleransi. Mayoritas agama di desa ini adalah Hindu, meskipun mayoritas mereka tetap menghormati agama lain.

Di desa ini tersedia tour guide untuk membantu menterjemahan bahasa isyarat agar memudahkan para wisatawan lokal maupun manca negara bisa berkomunikasi dengan warga sekitar, karena tidak semua orang menguasai bahasa isyarat.

Kampung tuli sangat indah dan udaranya sejuk, rasa keharmonisan dan kerukunan sangat terasa. Kehidupan masyarakat disana selain sebagai pengerajin juga meladang dan bercocok tanam.

Selain pemandangan rumah warga yang berjajar rapi kita bisa melihat hamparan ladang dan persawahan berbentuk sengkedan menambah kesan asri dan sejuk.

Suara ayam berkokok masih terdengar jelas saat pagi hari, dan saat malam hari suara jangkrik menambah kesan pedesaan sekali.

Setiap pagi dan sore kita bisa melihat warga penganut agama hindu beribadah ke pura. Sumber air disini tidak tercemar limbah industri, kita masih bisa menjumpai banyak biota laut yang hidup bebas.

Selain pergi ke ladang terkadang penduduk melakukan kegiatan memancing di sungai dekat ladang sebagai hiburan bagi mereka.

Tanah yang dimiliki sangatlah subur para ibu dan remaja putri memanfaatkannya untuk bercocok tanam di halaman rumah mereka dengan media polyback.

Dengan adanya kunjungan para wistawan ini mereka bisa menjual hasil tanaman hias serta sayur dan buah-buahan segar hasil mereka berkebun dengan lahan kecil. Di desa ini akses internet dan sarana prasarana cukup baik.

Transportasi umum bisa keluar masuk dan tidak jauh dari pusat kota. Perkembangan pendidikan juga terjamin, di desa ini terdapat sekolah dasar umum dan ada sekolah yang menangani anak berkebutuhan khusus.

Fasilitas kesehatan dan pendidikan disini di tunjang oleh pemerintah. Para wisatawan yang ingin berlama – lama di kampung ini bisa menyewa villa yang di kelola warga desa ini.

Tentunya harga yang di tawarkan untuk wistawan lokal dan manca negara berbeda. Karena rasa tolerasi sangat tinggi desa ini memfasilitasi seluruh warganya dan wisatawan dengan mendirikan tempat ibadah mulai dari masjid, vihara, pura, klenteng dan gereja.

Fasilitas ibadah bertujuan untuk wisatawan yang ingin menginap di desa ini tidak perlu beribadah jauh ke kota. Bagi para wisatawan yang ingin mengelilingi desa ini tanpa jalan kaki, bisa menyewa becak untuk berkeliling desa ini tanpa rasa lelah.

Selain menyuguhkan kehidupan dan kreativitas pengolahan hasil alam mereka juga memberi hiburan seperti pertunjukan tari khas bali yang di bawakan oleh anak kecil dan remaja desa tersebut.

Pertunjukan di desa ini tidak setiap hari, mereka akan menjadwalkan acara sesuai kapasitas pengunjung.

Pak Yanto adalah salah satu warga tuna rungu di kampung ini, ia sebelumnya tidak tinggal disini. Alasan pak Yanto pindah adalah ia penasaran dengan kampung ini.

Dari rasa penasaran membuatnya semakin betah dan memutuskan untuk bertempat tinggal disini. Sebelum menetap dan memiliki rumah disini, ia ikut tinggal dengan orang yang memberikannya pekerjaan yaitu Pak Dedi.

Pak Dedi adalah bos pengerajin kayu ukiran yang memiliki cabang salah satunya di desa ini. Pak Yanto betah disini karena menjunjung tinggi rasa toleransi dan sikap yang mencerminkan kebudayaan-nya masih kental.

Katanya ia lebih merasa di hargai dan bermanfaat bagi kehidupannya. Selama tinggal disini ia juga menemukan cinta sejatinya. Setelah 1,5 tahun tinggal disini, ia bertemu dengan wanita tuna rungu bernama bu Nyoman.

Waktu itu bu Nyoman datang ke kampung ini sebagai wisatawan, kebetulan juga pak Yanto menjadi tour guide bu Nyoman dan 1 temannya.

Selama memperkenalkan kampung ini mereka merasa sudah akrab sekali padahal sebelumnya tidak bertemu. Setelah bu Nyoman selesai mengunjungi tempat ini ia pulang ke asalnya.

Dan pak Yanto menghubungi,bu Nyoman untuk menambah teman dan mempererat tali silaturahmi. Selama 1 tahun sudah mereka berkenalan, pak Yanto memutuskan untuk menikah dengan bu Nyoman.

Mereka menikah dengan acara sederhana pemberkatan di gereja yang dihadiri oleh keluarga dan sanak saudara. Setelah menikah bu Nyoman ikut tinggal bersama pak Yanto dan meninggalkan kampung halamannya.

Pernikahan mereka sudah 10 tahun dan dikaruniai tiga orang anak, dua cewek satu cowok. Kedua anak ceweknya tuli tapi yang dibuat heran anak cowoknya tidak tuli, dia memiliki pendengar seperti orang pada umumnya.

Secara genetik gak mungkin, tapi tuhan maha baik yang tak mugkin jadi mungkin. Kehidupan mereka juga sama seperti kita, anak – anaknya bersekolah semua.

Bu Nyoman bekerja sebagai pembuat canang dan teh kamboja yang tergabung dalam kelompok kerja desa ini. Hasil olahan di desa ini sebagian di ekspor ke luar negeri dan di distribusikan ke luar kota. Selain menjual mereka juga memproduksi.

Pemasaran hasil karya dan olahan produk dari desa ini melalui online dan offline. Pemasaran dalam media online sendiri di kelola oleh perkumpulan pemuda atau karang taruna di desa ini.

Pemasaran dengan cara offline mereka akan mengantarkan hasil karya dan olahan produk kepada pendagang yang berada di pusat kota atau pusat belanja.

Selain pedagang dari desa itu sendiri, mereka memperbolehkan pedagang dari luar masuk selama berperilaku tertib dan tidak mengganggu.

Beberapa pedagang yang masuk sebagian bisa berbahasa isyarat dan sebagian tidak. Sekarang desa ini dalam proses penambahan fasilitas dan pembangunan tempat edukasi baru.

Ladang yang dekat akses jalan umum dulunya hanya di tanami kebutuhan pokok, kini berubah menjadi tujuan wisata edukasi baru bagi wisatawan dari berbagai sekolah yaitu wisata petik buah dan sayur.

Bagi wisatawan lokal dan manca negara juga bisa melakukan kegiatan ini. Tiket masuk di wisata ini sudah tergabung dengan tiket masuk desa ini.

Bagi wisatawan yang ingin membawa pulang hasil panenannya sendiri bisa di timbang dahulu dan membayar dengan harga murah. Bagi pecinta tumbuhan dan bunga kini sudah tersedia pasar tanaman hias dan pasar bibit.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang begitu naik desa ini telah mendapatakan beberapa penghargaan dan sudah di akui sebagai destinasi wisata edukasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.